Kamis, 25 April 2013

Menunggu Sang Mentari



“Arena! Arena! Arena!”
“Cepat dong kalian standby! Rongrongan fans kalian udah gak bisa ditahan” ucapOm Yuda, manager band Arena.
“Tunggu dulu, Mitha lama nih, dandan mulu sih kerjaannya” ujar Egi
“Aduuh kalian ini band yang aneh. Cepat nyanyiiii” gaya khas Om Yuda yang luwes mulai tampak.
Dari sudut panggung terlihat para fans yang sudah kehausan melihat sang idola.
“Malam Sobat Arena!!! Yok kita semangat malem ini!” tentu saja itu teriakan Mitha sang vokalis.

Di sisi lain, lelaki itu terus memerhatikan Mitha, tak sadar dia yakni sang gitaris, yang paling diteriaki semua fans wanita. Tentu saja karena ketampanannya dan kelihaiannya dalam memainkan gitar.

Kamu cantik, selalu cantik, Mitha

“Woy Rivan! Siapin gitar lo, jangan ngelamun” ucap Ferry sang pemain bass.
Di samping itu, Egi sang drummer terlihat berjingkrak – jingkrak di belakang drum nya.
Arena.. Band pop yang sedang naik daun di dunia musik di tanah air karena keunikannya dalam hal musik. Mereka berhasil menggaet ribuan fans yang saat ini menjadi sangat fanatik, hanya dalam kurun waktu 2 minggu.
~
“Istirahat ya anak – anak kesayanganku” pesan Om Yuda pada semua personil.
Mereka pun berlalu, dan segera pulang ke rumah masing – masing.
“Aaaaahh capeek” Rivan segera merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.
Tapi, walau tubuhnya sudah lelah setengah mati, dia takkan pernah melupakan satu hal. Tak lama muncul pemberitahuan pada handphonenya *SMS terkirim : Mitha*
Dalam hati kecilnya dia tahu, sangat tahu. Pesannya itu takkan pernah dibalas Mitha. Tapi entah apa yang mendorong Rivan untuk terus melakukannya.
*Dreet dreet, 1 SMS.. Rivan..*

Selamat tidur ya Mit..

“Hem.. kebiasaan” gumamnya.
“Dari siapa Mit?” ucap lelaki itu.
“Oh enggak, biasa fans suka iseng” jawab Mitha setengah gugup.
Harusnya kamu gak usah kirim aku SMS kayak gini lagi, Van. Aku gak bisa. Hatinya diliputi banyak rasa yang tak bisa diungkapkan.
~
Esoknya, Rivan bangun pukul 10 pagi. Seperti biasa, hal pertama yang ia lakukan setelah bangun adalah mengecek handphone. Ia berharap semoga Mitha membalas pesan singkatnya. Ternyata ada 1 pesan belum terbaca.

Ya Tuhan semoga Mitha semoga Mithaaa!!!

Tanpa berpikir panjang, dia segera membuka SMS itu. Sesaat, air mukanya berubah kecewa.

Hey kalian, tau gak? Tadi malam saya mencari info tentang festival band supaya kalian bisa ikutan dan siapa tau kalian bisa menjadi band internasional. Mau gak?

Ternyata Om Yuda, bukan Mitha. Tapi isi pesan Om Yuda sedikit menghapus kekecewaannya. Dia pun menekan tombol reply message pada layar handphonenya.

Pastinya dong om, festival band dimana? Terus pendaftarannya gimana?

*dreet dreet.. satu pesan singkat*

Pertama, festival di Bogor, terus ntar kalo menang kalian bakal di kirim ke Roma, Italia. Kebetulan pendaftarannya gratis. Paling telat daftarnya hari ini pukul 12 siang. Kalau kalian setuju, saya daftarkan kalian sekarang.

Tanpa sadar Rivan melompat-lompat kegirangan di kasurnya yang sekarang sudah mulai hancur. Dengan cepat dia mengirimkan pesan singkat ke Mitha.

Pagi Mithaaa!!! Udah denger beritanya belum? Bentar lagi band kita bakal go internasionaalll!!

Harapan Rivan untuk menunggu balasan dari Mitha mungkin sangat kecil, namun hati kecilnya tidak akan menyerah sebelum Mitha –orang yang dikaguminya- membalas pesannya.

5 menit kemudian. Dret..dret..  (suara hp bergetar)

Jantung Rivan berdegup sangat kencang. Dia tak bisa mnegontrol dirinya. Tangannya bergetar, tak sanggup memegang handphone. Dengan segala upayanya, akhirnya ia berhasil mengontrol diri. Matanya berbinar saat menatap layar handphone nya. *1 pesan : dari Mitha*.
Iya gue juga udah denger. Tapi kan belum tentu kita go internasional, Van.

Yaa berdoa aja semoga kita menang dan band kita bisa melambung ke Italia, hehe.

Gaya amat bahasa lo, iya amin hehe.
Betapa senangnya hati Rivan saat ini. Pertama, kabar baik dari manager bandnya. Kedua, pesan singkat yang dikirimnya ke Mitha di tanggap dengan baik. Biasanya Mitha cuek abis kalo di kirimi pesan oleh Rivan, tapi kali ini berbeda.
~
“kamu udah siap berangkat Mit?” tanya Ferry.
“udaah dong, kamu juga udah siap kan? Cek cek alat musik kalian takutnya gak bener nanti kalo kita tampil.” balas Mitha semangat sambil menepuk bahu Rivan.
Tanpa sadar senyum Rivan mengembang.
“widiih semangat amat, sarapan sama apa tadi pagi?” Balas Ferry.
“cieeee Ferry perhatian amat nih sama Mitha hahaha.” Ujar Om Yuda.
Ferry tertawa lepas sedangkan Mitha hanya tersipu malu.
“iya nih, cemburu gue haha.” Canda Egi.

Disamping itu...
 Senyum lelaki itu, perlahan memudar.
Gue gak boleh nyerah buat dapetin hati Mitha.. gue harus dapetin dia..
~
Percakapan antara mereka terpotong karena mereka akan segera berangkat ke Bogor. Setelah sampai di tempat tujuan, mereka pun bersiap untuk mengikuti festival band tersebut. Mereka membawakan lagu Andra and The Backbone – Sempurna.

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..

Lagu yang dinyanyikan ternyata mampu membuat hati penonton dan peserta band lainnya luluh tidak karuan. Begitu juga dengan jurinya.
Semenjak Rivan suka sama Mitha, setiap tampil dia selalu memerhatikan wanita itu.Lirik lagu itu benar – benar sesuai dengan yang Rivan rasakan.
Setelah semua band tampil, mereka harus menunggu pengumuman siapa yang menang dan yang akan dikirim ke Roma, Italia. Hal ini memakan waktu selama seminggu.
Arena harus bersabar menunggu hasil...
~
1 minggu kemudian..
Ya. Akhirnya setelah menunggu lama, om Yuda –sang manager band Arena- mendapat kabar baik, ternyata Arena masuk ke 3 besar. Dan mereka di undang di salah satu acara di Roma, Italia.
“nah sekarang kita harus mempersiapkan diri sebelum kita tampil di Roma.” Ujar Mitha.
“benar. Tadi kata om Yuda dua mingguan lagi kita caw ke Italia.” Lanjut Ferry.
“yeaaaayyy!! Pokoknya kita harus tampil semaksimal mungkin!” teriak Egi dan Rivan kompak.
~
2 minggu kemudian..

Sebelum tampil di acara itu Rivan mengajak Mitha pergi ke sebuah tempat yang romantis. Keduanya terdiam sejenak, lalu..
“Mit, kamu baca kertas ini” pinta Rivan.
Rivan memberikan sebuah kertas yang bertuliskan perasaan dia kepada perempuan itu. Mitha membaca isi kertas itu dengan ekspresi yang aneh dan membingungkan. Setelah itu...
“maafin aku.. Van..” ucap Mitha lirih
“Ngapain kalian berdua disini?” tanya Ferry dengan wajah kesal.
“Eh Van, gue gak nyangka ya, ternyata lo berani nusuk gue dari belakang!” amuk Ferry.
“Maksut lo apa Fer? Gue gak ngerti” Jawab Rivan bingung.
“Alaah pura-pura! Lo ngapain ngajak pacar gue ke tempat romantis kayak gini hah?!” Ferry makin menjadi.
“hah? Kk..kkaalian...ppaccarrann?!?!”
Tiba-tiba Rivan merasa ditimpa semua benda berat dan tajam yang begitu menusuk hatinya. Sementara itu, Mitha tak berkata apa-apa. Dia merasa terlalu bingung untuk berbicara.
Ferry dan Mitha berlalu meninggalkan Rivan dalam kebingungan.
~
“please welcome.. ARENAA!!!”

Malam itu, mereka tak bisa saling bekerja sama, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Penampilan mereka sangat buruk bahkan acap kali di ejek penonton.
Yap. Arena tidak tampil maksimal.

“kalian kenapa sih? Tadi penampilan kalian jelek banget.”

Yap. Om Yuda sangat kecewa dan sekarang Ia meminta mereka harus segera pulang ke Indonesia. Karena ini sangat memalukan baginya.

“kita pulang aja ya!” ujar Om Yuda dengan sedikit rasa kesal.

Akhirnya mereka pulang dengan tidak ada rasa senang atau bahagia sedikit pun. Mereka semua pulang dengan diselimuti rasa jengkel, kesal, marah, kecewa karena semuanya hancur total.

Ah sial! Semuanya salah gue... maafin gue..

Seluruh kejadian ini terus menguasai pikiran Rivan, hingga Ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia terus memikirkan bagaimana caranya supaya kembali ke keadaan normal.
Vaaan, bangun Vaaaannn. Ini semua bukan salah kamu...
DEG!
DRAG! DRAG!
“Hey ada apa ini?!”
“AAAAAAAAAA”
~

“selamat tinggal Fer...”
“kamu tau gak, dia itu udah lama suka sama kamu. Tapi kamunya malah nolak dia waktu itu..”
DEG!
Jantung Rivan tiba-tiba berdegup sangat kencang. Dan tiba-tiba hatinya merasa teriris ketika mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Mitha..
“iya Gi. Aku tau itu. Waktu itu aku Cuma mau ngetes dia aja apa bener dia sayang aku. Dan sekarang aku nyesel Gi.....”
Rivan berusaha menenangkan hatinya. Ia tetap terlihat tegar meskipun hatinya sangat teriris mendengar semua fakta ini. Tanpa sadar Ia memeluk Mitha dengan erat...
~
Setahun sesudah Ferry meninggal, Arena sekarang jadi berubah bentuk dan suasana. Semua jadi terasa dingin, tidak ada candaan yang biasanya dibuat oleh Ferry. Semua tiba-tiba menghilang...

Setelah kejadian itu, Rivan masih terus berusaha mendekati Mitha. Tapi, karena Ia sudah terlalu capek mengejar Mitha, akhirnya Ia menyerah dan putus harapan.
Namun semua berubah lagi. Sekarang Mitha sering menghubunginya. Rasa itu muncul kembali dengan harapan yang besar..
Dret..dret.. suara pesan singkat masuk.
Van..mmmm..aku ganggu gak?

Gak ganggu sama sekali, kenapa?

1 menit menunggu balasan...
3 menit kemudian...

Mau gak kita ketemu di taman? Aku mau cerita...

Oke. Jam 8 di taman ya.
~
“Van..”
“iya Mit....”
“sebenernya...”
“sssttt!! Udah udah, aku udah tau semuanya...”
“hah? Yang bener?”
“iya Mit, gausah di ulang lagi.. aku udah tau kok”
“hah? Jadi kamu udah tau..aaakku suka kamu? Ah pasti Egi deh, comel amat sih tuh anak!”
Hah?
Rivan memasang muka bingung setengah senang mendengarnya.

Ini suatu keajaiban!!!!

“ooohh so pasti”
“jjaaddii???”
“apaan sih, yang jelas dong Mit. Gak ngerti...”
“ihh. Sebenernya semenjak Ferry menghilang aaakkuu udah mulai.....”

Dengan sigap Rivan memotong pembicaraan wanita itu.

“maafin aku Mit. Tapi aku udah ga suka kamu lagi. Aku udah cape...”

Tiba-tiba ada yang jatuh di matanya. Ia menangis.Ia pergi berlari meninggalkan Rivan tanpa sepatah kata pun....

Kemudian..Rivan berlari, mengejar dan memeluk erat wanita yang bersedih itu.

“maafkan aku Mit, aku ga bermaksud membuat kamu menangis. Aku hanya ingin mengetesmu. Sebenernya aku juga sayang kamu...”

Akhirnya wanita itu pun kembali ceria dengan dihadiri sesosok pria yang menjadi kekasihnya saat ini.

Terimakasih Tuhan, akhirnya cinta sepihak selama ini bisa terbalaskan. Batin Rivan.
TAMAT.

Senin, 15 April 2013

Plant vs Zombies


"Vin, udahan dong. Giliran mamah yang main, dari kemaren pagi sampai malem, dan sekarang udah menjelang pagi, teruus aja kamu yang main!" Ucap mamah.
"Bentar lagi juga beres koooo, Maah." Balasku.
"Dari kemaren jawabannya gitu terus. Udah ah, mamah mau pergi, kunci pintu!"
"Yaudah..dadaah"
~
Lagi dan lagi, aku terus memainkan “Plant vs Zombies”. Plant vs Zombies adalah permainan yang paling aku senangi. Bermain dengan cara memilih plant yang nantinya akan menyerang para Zombie.
Ketika aku masih bermain, sejenak aku terdiam dan ada sesuatu yang melintas di otakku.
Ah andai ajaaaa aku bisa main langsung didalamnya, pasti seruuu!! ucapku dalam hati.

Tiba-tiba ada yang membalas perkataanku dengan suara lembut dan terdengar berasal dari komputer.
"Tentu kamu bisa."
Hah?
"Bagaimana caranya?" Balasku dengan rasa takut dan gemetar karena tanpa sadar aku sedang berbicara dengan komputer.
"Coba kau sentuh layar ini"
Aku mulai mencoba menyentuh layar komputer. Dan ternyata yang semula keras, entah bagaimana layarnya mulai meleleh, seperti selapis kabut cerah berwarna merah muda.
Kemudian, aku melangkah menembus layar dan sedikit melompat turun menapakkan kaki di dalam Dunia yang berbeda itu. Aku mulai melihat ke sekeliling, dan ternyata sama persis seperti yang selama ini aku mainkan di Dunia nyata. Ada si Sunflower pembuat matahari, Cactus dengan tembakan tajamnya, Peashooter dan Repeater dengan pelurunya dan yang pasti, Zombies. Tiba-tiba seseorang menembakku dari belakang dengan peluru hijaunya. Aku kenal peluru ini. Pasti Peashooter.
"Hey kau, jangan diam disana, nanti tembakanku tidak akan mengenai mereka." Ucap Peashooter.
Ternyata benar, itu Peashooter bicara padaku.
"Oh maafkan aku."
Sambil bergerak ke tepi taman, aku melihat aksi si Zombie dengan mukanya yang aneh dan kulit yang berwarna hijau ke abu abuan itu
"HUAHAHAHHHHHH..BRAIN..BRAIN.." Teriak si Zombie.
Aduh si zombie berisik banget, teriak brain mulu kerjaannya. Ucapku dalam hati dengan perasaan sedikit jengkel.
Wih, seru banget nih nonton langsung..
Ketika aku mulai serius menonton, tiba tiba terdengar teriakan dari salah satu tanaman.
"Hey kau, jangan diam saja, tolong bantu kami." Ucap Sunflower.
"Aku harus bagaimana? Aku tidak mempunyai tembakan khusus." Balasku.
Tiba-tiba Sunflower bergerak mendekatiku dan menyodorkan buah persik.
"Makanlah ini, nanti kamu akan seperti mereka." Ujar Sunflower sambil menunjuk ke arah tanaman Peashooter.
Hah? Apakah nanti mulutku akan seperti mereka? Berbentuk bulat dan menembakan peluru?
"Tidak terimakasih. Aku tidak mau."
"Mengapa? Apakah kamu takut nanti mulutmu akan seperti mereka? Berbentuk bulat dan menembakkan peluru?"
Hah? Kok bisa tau sih. Sial. Dia pasti bisa mendengar perkataanku tadi.
"Apa? Tidak. Hanya saja aku takut aku tidak bisa menggunakan peluruku nanti." Jawabku membual.
"Hey, hahaha. Jangan bohong padaku, aku bisa mendengar perkataanmu tadi di dalam hatimu."
Pipiku langsung memerah, karena dia menertawaiku. Aku tersipu malu.
"Hahaha, maafkan aku, aku takut nanti bibirku akan berubah menjadi bulat." Jelasku dengan rasa malu.
Sementara aku dan sunflower berbincang-bincang. Dan para tanaman yang sedang berperang melawan zombie, tiba tiba terdengar teriakan salah satu tanaman.
"Hey kalian, jangan mengobrol saja!! Bantu kami cepat! Seenaknya saja mengobrol!" Teriak Repeater.
"Iya benar, enak banget kalian mengobrol!" Lanjut si Cactus.
Aku merasa tidak enak dengan para tanaman itu. Akhirnya aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan kami, aku ingin membantu kalian dengan menembak para zombie itu, tapi aku tidak tau caranya." Balasku dengan nada teriak.
"Ayolah cepat makan buah itu nona!" Balas si Cactus.
"HAHAHAHH..BRAIN..BRAIN.."
Dengan cepat aku mengambil buah itu dari tangan Sunflower dan langsung memakannya, alhasil....
~
"Vin! Vin! Ko manyun manyun gitu sih, pasti berkhayal yang engga engga!" Ujar mamah.
"Hah mamah!? Dateng sejak kapan? Ko ga kedengeran suara datengnya?" Jawabku bingung.
"Dari tadi juga mamah udah nyampe di rumah kalee, cuma mamah lucu aja ngeliat kamu dari tadi berkhayal, kayanya seru, hahaha."
"Eh mamah gausah gitu, jadi malu aku. Hahaa." Jawabku dengan tersipu malu.

Aku baru menyadari bahwa semua ini adalah hanya khayalan semata. Aku larut dalam khayalan yang membuat aku lupa semuanya....

Sabtu, 29 Desember 2012

Two Triple O - Just 1 Nite


TWO TRIPLE O – JUST 1 NITE

Tak mampu diriku kini tanpamu
Sendiri kulewati waktuku
Pedih namun aku bertahan
Mencoba lupakan

Semua yang ada dalam dirimu
Kini telah menjauh dariku
Pedih namun aku bertahan
Mencoba lupakan

Tapi perlahan ku tak sanggup untuk melupakan semua
Kau yang pernah mencintaiku, jauh dari pelukku

Can you give me just tonite
I wanna feel your heart
I wanna hold you tight
Just you and me tonite

Please baby just one nite
Cuz I love you,
Cuz I want you,
And I need you

Can you give me just tonite
Take me to your heart,
Take me with your love
Just you and me tonite,

Please baby just one nite
Cuz I love you,
Cuz I want you,
Only you can make it true

Semua yang ada dalam dirimu
Kini telah menjauh dariku
Pedih namun aku bertahan
Mencoba lupakan

Tapi perlahan ku tak sanggup untuk melupakan semua
Kau yang pernah mencintaiku, jauh dari pelukku

Can you give me just tonite
I wanna feel your heart,
I wanna hold you tight
Just you and me tonite,

Please baby just one nite
Cuz I love you,
Cuz I want you,
And I need you

Can you give me just tonite
Take me to your heart,
Take me with your love
Just you and me tonite,

Please baby just one nite
Cuz I love you,
Cuz I want you,
Only you can make it true