“Arena! Arena!
Arena!”
“Cepat dong kalian
standby! Rongrongan fans kalian udah gak bisa ditahan” ucapOm Yuda, manager
band Arena.
“Tunggu dulu,
Mitha lama nih, dandan mulu sih kerjaannya” ujar Egi
“Aduuh kalian ini
band yang aneh. Cepat nyanyiiii” gaya khas Om Yuda yang luwes mulai tampak.
Dari sudut
panggung terlihat para fans yang sudah kehausan melihat sang idola.
“Malam Sobat
Arena!!! Yok kita semangat malem ini!” tentu saja itu teriakan Mitha sang
vokalis.
Di sisi lain,
lelaki itu terus memerhatikan Mitha, tak sadar dia yakni sang gitaris, yang
paling diteriaki semua fans wanita. Tentu saja karena ketampanannya dan
kelihaiannya dalam memainkan gitar.
Kamu cantik,
selalu cantik, Mitha
“Woy Rivan! Siapin
gitar lo, jangan ngelamun” ucap Ferry sang pemain bass.
Di samping itu,
Egi sang drummer terlihat berjingkrak – jingkrak di belakang drum nya.
Arena.. Band pop
yang sedang naik daun di dunia musik di tanah air karena keunikannya dalam hal
musik. Mereka berhasil menggaet ribuan fans yang saat ini menjadi sangat
fanatik, hanya dalam kurun waktu 2 minggu.
~
“Istirahat ya anak
– anak kesayanganku” pesan Om Yuda pada semua personil.
Mereka pun
berlalu, dan segera pulang ke rumah masing – masing.
“Aaaaahh capeek”
Rivan segera merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.
Tapi, walau
tubuhnya sudah lelah setengah mati, dia takkan pernah melupakan satu hal. Tak
lama muncul pemberitahuan pada handphonenya *SMS terkirim : Mitha*
Dalam hati
kecilnya dia tahu, sangat tahu. Pesannya itu takkan pernah dibalas Mitha. Tapi
entah apa yang mendorong Rivan untuk terus melakukannya.
*Dreet dreet, 1
SMS.. Rivan..*
Selamat tidur ya Mit..
“Hem.. kebiasaan”
gumamnya.
“Dari siapa Mit?”
ucap lelaki itu.
“Oh enggak, biasa
fans suka iseng” jawab Mitha setengah gugup.
Harusnya kamu
gak usah kirim aku SMS kayak gini lagi, Van. Aku gak bisa. Hatinya diliputi banyak rasa yang tak bisa
diungkapkan.
~
Esoknya, Rivan
bangun pukul 10 pagi. Seperti biasa, hal pertama yang ia lakukan setelah bangun
adalah mengecek handphone. Ia berharap semoga Mitha membalas pesan singkatnya.
Ternyata ada 1 pesan belum terbaca.
Ya Tuhan semoga Mitha semoga Mithaaa!!!
Tanpa berpikir
panjang, dia segera membuka SMS itu. Sesaat, air mukanya berubah kecewa.
Hey kalian, tau gak? Tadi malam saya mencari info tentang
festival band supaya kalian bisa ikutan dan siapa tau kalian bisa menjadi band
internasional. Mau gak?
Ternyata Om Yuda,
bukan Mitha. Tapi isi pesan Om Yuda sedikit menghapus kekecewaannya. Dia pun
menekan tombol reply message pada layar handphonenya.
Pastinya dong om, festival band dimana? Terus
pendaftarannya gimana?
*dreet dreet.. satu pesan singkat*
Pertama, festival di Bogor, terus ntar kalo menang kalian
bakal di kirim ke Roma, Italia. Kebetulan pendaftarannya gratis. Paling telat
daftarnya hari ini pukul 12 siang. Kalau kalian setuju, saya daftarkan kalian
sekarang.
Tanpa sadar Rivan melompat-lompat
kegirangan di kasurnya yang sekarang sudah mulai hancur. Dengan cepat dia mengirimkan
pesan singkat ke Mitha.
Pagi Mithaaa!!! Udah denger beritanya belum? Bentar lagi
band kita bakal go internasionaalll!!
Harapan Rivan
untuk menunggu balasan dari Mitha mungkin sangat kecil, namun hati kecilnya
tidak akan menyerah sebelum Mitha –orang yang dikaguminya- membalas pesannya.
5 menit kemudian. Dret..dret.. (suara hp bergetar)
Jantung Rivan
berdegup sangat kencang. Dia tak bisa mnegontrol dirinya. Tangannya bergetar,
tak sanggup memegang handphone. Dengan segala upayanya, akhirnya ia
berhasil mengontrol diri. Matanya berbinar saat menatap layar handphone
nya. *1 pesan : dari Mitha*.
Iya gue juga udah denger. Tapi kan belum tentu
kita go internasional, Van.
Yaa berdoa aja semoga kita menang dan band kita
bisa melambung ke Italia, hehe.
Gaya amat bahasa lo, iya amin hehe.
Betapa senangnya
hati Rivan saat ini. Pertama, kabar baik dari manager bandnya. Kedua, pesan
singkat yang dikirimnya ke Mitha di tanggap dengan baik. Biasanya Mitha cuek abis
kalo di kirimi pesan oleh Rivan, tapi kali ini berbeda.
~
“kamu udah siap
berangkat Mit?” tanya Ferry.
“udaah dong, kamu
juga udah siap kan? Cek cek alat musik kalian takutnya gak bener nanti kalo
kita tampil.” balas Mitha semangat sambil menepuk bahu Rivan.
Tanpa sadar senyum
Rivan mengembang.
“widiih semangat
amat, sarapan sama apa tadi pagi?” Balas Ferry.
“cieeee Ferry
perhatian amat nih sama Mitha hahaha.” Ujar Om Yuda.
Ferry tertawa
lepas sedangkan Mitha hanya tersipu malu.
“iya nih, cemburu
gue haha.” Canda Egi.
Disamping itu...
Senyum lelaki itu,
perlahan memudar.
Gue gak boleh nyerah buat dapetin hati Mitha..
gue harus dapetin dia..
~
Percakapan antara
mereka terpotong karena mereka akan segera berangkat ke Bogor. Setelah sampai
di tempat tujuan, mereka pun bersiap untuk mengikuti festival band tersebut.
Mereka membawakan lagu Andra and The Backbone – Sempurna.
Janganlah kau tinggalkan
diriku
Takkan mampu menghadapi
semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..
Lagu yang
dinyanyikan ternyata mampu membuat hati penonton dan peserta band lainnya luluh
tidak karuan. Begitu juga dengan jurinya.
Semenjak Rivan
suka sama Mitha, setiap tampil dia selalu memerhatikan wanita itu.Lirik lagu
itu benar – benar sesuai dengan yang Rivan rasakan.
Setelah semua band
tampil, mereka harus menunggu pengumuman siapa yang menang dan yang akan
dikirim ke Roma, Italia. Hal ini memakan waktu selama seminggu.
Arena harus bersabar
menunggu hasil...
~
1 minggu kemudian..
Ya. Akhirnya
setelah menunggu lama, om Yuda –sang manager band Arena- mendapat kabar baik,
ternyata Arena masuk ke 3 besar. Dan mereka di undang di salah satu acara di
Roma, Italia.
“nah sekarang kita
harus mempersiapkan diri sebelum kita tampil di Roma.” Ujar Mitha.
“benar. Tadi kata
om Yuda dua mingguan lagi kita caw ke Italia.” Lanjut Ferry.
“yeaaaayyy!!
Pokoknya kita harus tampil semaksimal mungkin!” teriak Egi dan Rivan kompak.
~
2 minggu kemudian..
Sebelum tampil di
acara itu Rivan mengajak Mitha pergi ke sebuah tempat yang romantis. Keduanya
terdiam sejenak, lalu..
“Mit, kamu baca
kertas ini” pinta Rivan.
Rivan memberikan
sebuah kertas yang bertuliskan perasaan dia kepada perempuan itu. Mitha membaca
isi kertas itu dengan ekspresi yang aneh dan membingungkan. Setelah itu...
“maafin aku..
Van..” ucap Mitha lirih
“Ngapain kalian
berdua disini?” tanya Ferry dengan wajah kesal.
“Eh Van, gue gak
nyangka ya, ternyata lo berani nusuk gue dari belakang!” amuk Ferry.
“Maksut lo apa
Fer? Gue gak ngerti” Jawab Rivan bingung.
“Alaah pura-pura!
Lo ngapain ngajak pacar gue ke tempat romantis kayak gini hah?!” Ferry makin
menjadi.
“hah?
Kk..kkaalian...ppaccarrann?!?!”
Tiba-tiba Rivan
merasa ditimpa semua benda berat dan tajam yang begitu menusuk hatinya.
Sementara itu, Mitha tak berkata apa-apa. Dia merasa terlalu bingung untuk
berbicara.
Ferry dan Mitha
berlalu meninggalkan Rivan dalam kebingungan.
~
“please welcome..
ARENAA!!!”
Malam itu, mereka
tak bisa saling bekerja sama, semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Penampilan mereka sangat buruk bahkan acap kali di ejek penonton.
Yap. Arena tidak
tampil maksimal.
“kalian kenapa
sih? Tadi penampilan kalian jelek banget.”
Yap. Om Yuda sangat
kecewa dan sekarang Ia meminta mereka harus segera pulang ke Indonesia. Karena
ini sangat memalukan baginya.
“kita pulang aja
ya!” ujar Om Yuda dengan sedikit rasa kesal.
Akhirnya mereka
pulang dengan tidak ada rasa senang atau bahagia sedikit pun. Mereka semua
pulang dengan diselimuti rasa jengkel, kesal, marah, kecewa karena semuanya
hancur total.
Ah sial! Semuanya salah gue... maafin gue..
Seluruh kejadian
ini terus menguasai pikiran Rivan, hingga Ia terus menyalahkan dirinya sendiri.
Ia terus memikirkan bagaimana caranya supaya kembali ke keadaan normal.
Vaaan, bangun Vaaaannn. Ini semua bukan
salah kamu...
DEG!
DRAG! DRAG!
“Hey ada apa
ini?!”
“AAAAAAAAAA”
~
“selamat tinggal
Fer...”
“kamu tau gak, dia
itu udah lama suka sama kamu. Tapi kamunya malah nolak dia waktu itu..”
DEG!
Jantung Rivan
tiba-tiba berdegup sangat kencang. Dan tiba-tiba hatinya merasa teriris ketika mendengar
kata-kata yang keluar dari bibir Mitha..
“iya Gi. Aku tau
itu. Waktu itu aku Cuma mau ngetes dia aja apa bener dia sayang aku. Dan
sekarang aku nyesel Gi.....”
Rivan berusaha
menenangkan hatinya. Ia tetap terlihat tegar meskipun hatinya sangat teriris
mendengar semua fakta ini. Tanpa sadar Ia memeluk Mitha dengan erat...
~
Setahun sesudah
Ferry meninggal, Arena sekarang jadi berubah bentuk dan suasana. Semua jadi
terasa dingin, tidak ada candaan yang biasanya dibuat oleh Ferry. Semua
tiba-tiba menghilang...
Setelah kejadian
itu, Rivan masih terus berusaha mendekati Mitha. Tapi, karena Ia sudah terlalu
capek mengejar Mitha, akhirnya Ia menyerah dan putus harapan.
Namun semua
berubah lagi. Sekarang Mitha sering menghubunginya. Rasa itu muncul kembali
dengan harapan yang besar..
Van..mmmm..aku ganggu gak?
Gak ganggu sama sekali, kenapa?
1 menit menunggu
balasan...
3 menit
kemudian...
Mau gak kita ketemu di taman? Aku mau cerita...
Oke. Jam 8 di taman ya.
~
“Van..”
“iya Mit....”
“sebenernya...”
“sssttt!! Udah
udah, aku udah tau semuanya...”
“hah? Yang bener?”
“iya Mit, gausah
di ulang lagi.. aku udah tau kok”
“hah? Jadi kamu
udah tau..aaakku suka kamu? Ah pasti Egi deh, comel amat sih tuh anak!”
Hah?
Rivan memasang
muka bingung setengah senang mendengarnya.
Ini suatu keajaiban!!!!
“ooohh so pasti”
“jjaaddii???”
“apaan sih, yang
jelas dong Mit. Gak ngerti...”
“ihh. Sebenernya
semenjak Ferry menghilang aaakkuu udah mulai.....”
Dengan sigap Rivan
memotong pembicaraan wanita itu.
“maafin aku Mit.
Tapi aku udah ga suka kamu lagi. Aku udah cape...”
Tiba-tiba ada yang
jatuh di matanya. Ia menangis.Ia pergi berlari meninggalkan Rivan tanpa sepatah
kata pun....
Kemudian..Rivan
berlari, mengejar dan memeluk erat wanita yang bersedih itu.
“maafkan aku Mit,
aku ga bermaksud membuat kamu menangis. Aku hanya ingin mengetesmu. Sebenernya
aku juga sayang kamu...”
Akhirnya wanita
itu pun kembali ceria dengan dihadiri sesosok pria yang menjadi kekasihnya saat
ini.
Terimakasih
Tuhan, akhirnya cinta sepihak selama ini bisa terbalaskan. Batin Rivan.
TAMAT.
