Senin, 15 April 2013

Plant vs Zombies


"Vin, udahan dong. Giliran mamah yang main, dari kemaren pagi sampai malem, dan sekarang udah menjelang pagi, teruus aja kamu yang main!" Ucap mamah.
"Bentar lagi juga beres koooo, Maah." Balasku.
"Dari kemaren jawabannya gitu terus. Udah ah, mamah mau pergi, kunci pintu!"
"Yaudah..dadaah"
~
Lagi dan lagi, aku terus memainkan “Plant vs Zombies”. Plant vs Zombies adalah permainan yang paling aku senangi. Bermain dengan cara memilih plant yang nantinya akan menyerang para Zombie.
Ketika aku masih bermain, sejenak aku terdiam dan ada sesuatu yang melintas di otakku.
Ah andai ajaaaa aku bisa main langsung didalamnya, pasti seruuu!! ucapku dalam hati.

Tiba-tiba ada yang membalas perkataanku dengan suara lembut dan terdengar berasal dari komputer.
"Tentu kamu bisa."
Hah?
"Bagaimana caranya?" Balasku dengan rasa takut dan gemetar karena tanpa sadar aku sedang berbicara dengan komputer.
"Coba kau sentuh layar ini"
Aku mulai mencoba menyentuh layar komputer. Dan ternyata yang semula keras, entah bagaimana layarnya mulai meleleh, seperti selapis kabut cerah berwarna merah muda.
Kemudian, aku melangkah menembus layar dan sedikit melompat turun menapakkan kaki di dalam Dunia yang berbeda itu. Aku mulai melihat ke sekeliling, dan ternyata sama persis seperti yang selama ini aku mainkan di Dunia nyata. Ada si Sunflower pembuat matahari, Cactus dengan tembakan tajamnya, Peashooter dan Repeater dengan pelurunya dan yang pasti, Zombies. Tiba-tiba seseorang menembakku dari belakang dengan peluru hijaunya. Aku kenal peluru ini. Pasti Peashooter.
"Hey kau, jangan diam disana, nanti tembakanku tidak akan mengenai mereka." Ucap Peashooter.
Ternyata benar, itu Peashooter bicara padaku.
"Oh maafkan aku."
Sambil bergerak ke tepi taman, aku melihat aksi si Zombie dengan mukanya yang aneh dan kulit yang berwarna hijau ke abu abuan itu
"HUAHAHAHHHHHH..BRAIN..BRAIN.." Teriak si Zombie.
Aduh si zombie berisik banget, teriak brain mulu kerjaannya. Ucapku dalam hati dengan perasaan sedikit jengkel.
Wih, seru banget nih nonton langsung..
Ketika aku mulai serius menonton, tiba tiba terdengar teriakan dari salah satu tanaman.
"Hey kau, jangan diam saja, tolong bantu kami." Ucap Sunflower.
"Aku harus bagaimana? Aku tidak mempunyai tembakan khusus." Balasku.
Tiba-tiba Sunflower bergerak mendekatiku dan menyodorkan buah persik.
"Makanlah ini, nanti kamu akan seperti mereka." Ujar Sunflower sambil menunjuk ke arah tanaman Peashooter.
Hah? Apakah nanti mulutku akan seperti mereka? Berbentuk bulat dan menembakan peluru?
"Tidak terimakasih. Aku tidak mau."
"Mengapa? Apakah kamu takut nanti mulutmu akan seperti mereka? Berbentuk bulat dan menembakkan peluru?"
Hah? Kok bisa tau sih. Sial. Dia pasti bisa mendengar perkataanku tadi.
"Apa? Tidak. Hanya saja aku takut aku tidak bisa menggunakan peluruku nanti." Jawabku membual.
"Hey, hahaha. Jangan bohong padaku, aku bisa mendengar perkataanmu tadi di dalam hatimu."
Pipiku langsung memerah, karena dia menertawaiku. Aku tersipu malu.
"Hahaha, maafkan aku, aku takut nanti bibirku akan berubah menjadi bulat." Jelasku dengan rasa malu.
Sementara aku dan sunflower berbincang-bincang. Dan para tanaman yang sedang berperang melawan zombie, tiba tiba terdengar teriakan salah satu tanaman.
"Hey kalian, jangan mengobrol saja!! Bantu kami cepat! Seenaknya saja mengobrol!" Teriak Repeater.
"Iya benar, enak banget kalian mengobrol!" Lanjut si Cactus.
Aku merasa tidak enak dengan para tanaman itu. Akhirnya aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan kami, aku ingin membantu kalian dengan menembak para zombie itu, tapi aku tidak tau caranya." Balasku dengan nada teriak.
"Ayolah cepat makan buah itu nona!" Balas si Cactus.
"HAHAHAHH..BRAIN..BRAIN.."
Dengan cepat aku mengambil buah itu dari tangan Sunflower dan langsung memakannya, alhasil....
~
"Vin! Vin! Ko manyun manyun gitu sih, pasti berkhayal yang engga engga!" Ujar mamah.
"Hah mamah!? Dateng sejak kapan? Ko ga kedengeran suara datengnya?" Jawabku bingung.
"Dari tadi juga mamah udah nyampe di rumah kalee, cuma mamah lucu aja ngeliat kamu dari tadi berkhayal, kayanya seru, hahaha."
"Eh mamah gausah gitu, jadi malu aku. Hahaa." Jawabku dengan tersipu malu.

Aku baru menyadari bahwa semua ini adalah hanya khayalan semata. Aku larut dalam khayalan yang membuat aku lupa semuanya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar