"Vin, udahan dong.
Giliran mamah yang main, dari kemaren pagi sampai malem, dan sekarang udah
menjelang pagi, teruus aja kamu yang main!" Ucap mamah.
"Bentar
lagi juga beres koooo, Maah." Balasku.
"Dari
kemaren jawabannya gitu terus. Udah ah, mamah mau pergi, kunci pintu!"
"Yaudah..dadaah"
~
Lagi dan lagi, aku terus memainkan “Plant vs Zombies”.
Plant vs Zombies adalah permainan yang paling aku senangi. Bermain dengan cara
memilih plant yang nantinya akan menyerang para Zombie.
Ketika aku masih bermain, sejenak aku terdiam dan ada
sesuatu yang melintas di otakku.
Ah andai ajaaaa aku bisa
main langsung didalamnya, pasti seruuu!! ucapku dalam hati.
Tiba-tiba
ada yang membalas perkataanku
dengan suara lembut dan terdengar berasal dari komputer.
"Tentu
kamu bisa."
Hah?
"Bagaimana
caranya?" Balasku dengan rasa takut dan gemetar karena tanpa sadar aku
sedang berbicara dengan komputer.
"Coba
kau sentuh layar ini"
Aku
mulai mencoba menyentuh layar komputer. Dan ternyata yang semula keras, entah
bagaimana layarnya mulai meleleh, seperti selapis kabut cerah berwarna merah
muda.
Kemudian,
aku melangkah menembus layar dan sedikit melompat turun menapakkan kaki di
dalam Dunia yang berbeda itu. Aku mulai melihat ke sekeliling, dan ternyata
sama persis seperti yang selama ini aku mainkan di Dunia nyata. Ada
si Sunflower pembuat matahari, Cactus dengan tembakan tajamnya, Peashooter dan
Repeater dengan pelurunya dan yang pasti, Zombies. Tiba-tiba seseorang menembakku
dari belakang dengan peluru hijaunya. Aku kenal peluru ini. Pasti Peashooter.
"Hey
kau, jangan diam disana, nanti tembakanku tidak akan mengenai mereka."
Ucap Peashooter.
Ternyata benar, itu
Peashooter bicara padaku.
"Oh
maafkan aku."
Sambil bergerak ke tepi taman, aku melihat aksi si Zombie
dengan mukanya yang aneh dan kulit yang berwarna hijau ke abu abuan itu
"HUAHAHAHHHHHH..BRAIN..BRAIN.."
Teriak si Zombie.
Aduh si zombie berisik
banget, teriak brain mulu kerjaannya. Ucapku dalam hati dengan
perasaan sedikit jengkel.
Wih, seru banget nih
nonton langsung..
Ketika aku mulai serius menonton, tiba tiba terdengar
teriakan dari salah satu tanaman.
"Hey
kau, jangan diam saja, tolong bantu kami." Ucap Sunflower.
"Aku
harus bagaimana? Aku tidak mempunyai tembakan khusus." Balasku.
Tiba-tiba
Sunflower bergerak mendekatiku dan menyodorkan buah
persik.
"Makanlah
ini, nanti kamu akan seperti mereka." Ujar
Sunflower sambil menunjuk ke arah tanaman Peashooter.
Hah? Apakah nanti mulutku
akan seperti mereka? Berbentuk bulat dan menembakan peluru?
"Tidak
terimakasih. Aku tidak
mau."
"Mengapa?
Apakah kamu takut nanti mulutmu akan seperti mereka? Berbentuk bulat dan
menembakkan peluru?"
Hah? Kok bisa tau sih.
Sial. Dia pasti bisa mendengar perkataanku tadi.
"Apa?
Tidak. Hanya saja aku takut aku tidak bisa menggunakan peluruku nanti."
Jawabku membual.
"Hey,
hahaha. Jangan bohong padaku, aku bisa mendengar perkataanmu tadi di dalam
hatimu."
Pipiku langsung memerah, karena dia menertawaiku. Aku
tersipu malu.
"Hahaha,
maafkan aku, aku takut nanti bibirku akan berubah menjadi bulat." Jelasku
dengan rasa malu.
Sementara
aku dan sunflower berbincang-bincang. Dan para tanaman yang sedang berperang
melawan zombie, tiba tiba terdengar teriakan salah satu tanaman.
"Hey
kalian, jangan mengobrol saja!! Bantu kami cepat! Seenaknya saja
mengobrol!" Teriak Repeater.
"Iya
benar, enak banget kalian mengobrol!" Lanjut si Cactus.
Aku merasa tidak enak dengan para tanaman itu. Akhirnya
aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan
kami, aku ingin membantu kalian dengan menembak para zombie itu, tapi aku tidak
tau caranya." Balasku dengan nada teriak.
"Ayolah
cepat makan buah itu nona!" Balas si Cactus.
"HAHAHAHH..BRAIN..BRAIN.."
Dengan
cepat aku mengambil buah itu dari tangan Sunflower dan
langsung memakannya, alhasil....
~
"Vin!
Vin!
Ko manyun manyun gitu sih, pasti berkhayal yang engga engga!" Ujar mamah.
"Hah
mamah!? Dateng sejak kapan? Ko ga kedengeran suara datengnya?" Jawabku
bingung.
"Dari
tadi juga mamah udah nyampe di rumah kalee, cuma mamah lucu aja ngeliat kamu
dari tadi berkhayal, kayanya seru, hahaha."
"Eh
mamah gausah gitu, jadi malu aku. Hahaa." Jawabku dengan
tersipu malu.
Aku baru menyadari
bahwa semua ini adalah hanya khayalan semata. Aku larut dalam khayalan yang membuat
aku lupa semuanya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar